Ada panduan praktis yang terangkum dalam sebuah buku saku yang terkenal dan menjadi best-seller di Amerika sana.
READ MORE - Serangkaian Latihan Dari Sang Pakar
Jumat, 23 April 2010
Tanyakan Pada Diri Anda...

...Apa yang mesti dikorbankan...?
Manusia punya segudang potensi, tapi juga makhluk yang penuh kekurangan. Tidak ada manusia yang bisa menguasai semua bidang, sekalipun punya wawasan yang luas di berbagai bidang, layaknya ensiklopedia berjalan. Einstein _ilmuwan fisika dunia yang diakui kejeniusannya_sekalipun mengabdikan hidupnya pada satu bidang saja dari disiplin ilmu sains, yaitu fisika. Harus ada hal yang anda prioritaskan dan harus ada yang anda relakan untuk tidak digarap, demi suksesnya aturan dasar dalam berbisnis. Aturan itu adalah fokus.
Fokus bukan berarti mengharamkan kita dari kata serba bisa, atau mematikan langkah dan arah. Fokus berati menekuni satu bidang sampai ahli di bidang tersebut. Jika bidang yang satu telah terkuasai, maka menggarap bidang yang lain takkan jadi masalah. "Selesaikan dahulu bidang yang satu dengan sungguh-sungguh, baru kemudian kerjakan yang lain. Sesungguhnya sesudah kesulitan pasti ada kemudahan" (Disarikan dari Alquran Surah Al-Insyirah)
Menggarap semua hal sekaligus, tanpa pengetahuan teknis dan pengalaman yang memadai hanya akan membuat fisik dan mental anda lelah. Akhirnya tak ada satu bidang pun yang anda garap dengan tuntas. Semuanya mengambang, tak tentu ujung pangkalnya, dan yang lebih menyedihkan, kesan 'amatiran' akan menjadi ciri khas anda. Ingat cahaya matahari yang berhasil dibuat api adalah cahaya yang terfokus. Makanya...Fokus, fokus, fokus dan fokus.
Rabu, 21 April 2010
"SEMANGAT PAGI!!!"(2)

Gimana...sudah terbakar semangatnya belun? Wah...susah ya kalo kerja tak pake semangat...Pepatah iseng grasak-grusuk: "La fulus-la nufus, La nufus? Lha mampuss!!" (Tak ada uang-tak ada semangat, Tak punya semangat? Mati saja!)
Biar semangat, ada 3 pilihan:
1. Masuk akademi militer. Gembleng diri dengan disiplin prajurit yang selalu siap perang mengangkat senjata setiap saat. Siap memimpin diri sendiri dan memimpin sebuah komunitas, atau sebuah perusahaan. Banyak prinsip-prinsip militer (keprajuritan atau seni berperang yang diterapkan dalam dunia bisnis, dan terbukti efektif)
2. Pelajari diri melalui psikologi. Anda malas jadi prajurit yang gosong-gosong tapi gagah seperti robot itu? Selami saja diri dengan dunia psikologi. Pisahkan diri anda. Melalui serangkaian latihan yang teratur, anda akan melihat sendiri perubahan yang mencengangkan. Satu sisi diri kita yang pemalas, gampang menyerah dan penakut, akan 'mandul' dan tak berpengaruh lagi. (Baca: "Bagaimana Mengembangkan Kharisma Dan Daya Tarik Pribadi Anda" Karya Stephanie Barrat Godefroy)
3. Belajar agama dan spiritual. Tanpa bermaksud memprioritaskan. Tanpa dijelaskan lagi, agama memang jawaban dari semua persoalan hidup. Fakta: Orang akan punya kehidupan yang terkendali jika ia ditanamkan nilai-nilai agama atau spiritual sejak kecil. Bahkan para pasien psikis lebih cepat sembuh bila dalam jiwanya tertanam nilai-nilai agama.
"SEMANGAT PAGI!!!"

Inilah teriakan pembangkit semangat para salesman. Kapanpun anda merasa loyo, teriakan ini akan membantu semangat anda kembali seperti ketika memulai hidup pada pagi hari. Cobalah teriakkan kalimat ini dengan sekuat tenaga, tentu saja lihat-lihat dulu sekeliling kita, jangan sampai orang pada kaget atau bahkan pingsan karena kaget. Anda akan merasa darah anda lebih 'terbakar'. Cobalah..
Belajar Menjual
Anda boleh jadi tidak suka salesman. Karena ulah segelintir orang, citra salesman jadi terkesan penipu dan pembual yang hanya mencari keuntungan dalam menjual. Saya ambil positifnya saja.
Yang perlu anda ketahui adalah: Apapun usaha anda, anda akan lebih cepat berkembang jika anda terampil dalam menjual. Keterampilan menjual bukan berarti terbatas hanya pada barang dan jasa saja. Menjual dalam arti 'menyajikan' kemudian berkesan di hati pengguna. Dalam bisnis hiburan misalnya, perempuan lebih punya 'nilai jual' dibanding laki-laki. Perempuan sendiri kalau tak punya nilai jual tidak akan terpakai.
Okelah anda seorang idealis, anda akan menulis buku misalnya. Jika buku-buku anda tidak menjual karena terlalu berat dan sempit, tulisan-tulisan anda tidak akan laku lagi. Jika anda seorang pelukis, buat saja sebuah lukisan yang berkualitas dari segi idealisme, juga punya nilai jual tinggi. Banyak pelukis kebanggaan kita yang hari tuanya terjamin dari lukisan-lukisan karyanya, dan mereka masih tetap dikenang sebagai legenda dengan galeri-galeri mereka yang megah dan tertata dengan baik. Basuki Abdullah, Affandi, Barli, dan masih banyak lagi.
Maaf Bos, anda harus punya motivasi

Sekarang anak anda mungkin masih bayi, baru belajar berjalan, mungkin baru belajar bilang "Ma..Maa" saja, selebihnya...nangis!
Tunggu satu-dua tahun lagi: "Pa, jajan...jajan.."
Beberapa tahun lagi: "Pa, pengen mainan anu..."
"Pa, minta uang buat ongkos", "Pa, pengen sekolah di anu.." "Pa, temen-temen pada punya motor, punya anu..anu..."
Lalu "Pa, pengen kuliah di anu.."
Tunggu saja sampai saatnya tiba, dan ini pasti terjadi
"Pa, aku pengen nikah..."
Apa jawaban yang akan anda berikan? Anda tak mau anak anda kecewa bukan?
Itu baru anak anda. Isteri anda? Orang tua anda yang sudah tidak produktif lagi? Adik-adik anda yang menjadi tanggungan anda?
Motivasi melahirkan semangat, semangat untuk membahagiakan orang-orang yang anda cintai. "Cinta membuat si pemalas menjadi giat, membuat si lemah jadi kuat, si pengeluh jadi pantang menyerah"
Berbagi

Jangan gumuli penderitaan ini sendirian. Melihat angka pengangguran di negeri ini, ternyata anda tidak sendirian. Ada sekian juta orang yang senasib dengan anda. Seringkali pekerjaan tidak didapat dari hasil berburu sendirian, tapi bermula dari kabar yang dibawa teman atau kenalan anda, alias dari mulut ke mulut. Melalui sebuah komunitas, anda akan terbantu. Ibarat menempuh perjalanan jauh, anda akan lebih cepat sampai ke tujuan bila menumpang kendaraan dan 'menitipkan' perjalanan pada sopir yang anda percaya. Ini seperti menitipkan atau memposisikan diri.
Sebagai contoh, dulu saya mendapat pekerjaan saya yang pertama sebagai salesman atas rekomendasi teman saya yang lebih dulu bekerja di perusahaan itu. Bukan masalah nepotismenya yang ingin saya angkat, walaupun aromanya mungkin ada. Tapi perusahaan manapun pasti mencari sumber daya manusia yang terampil dan bisa diandalkan. Dan yang paling penting di atas itu semua, kualitas manusia yang bermental jujur dan bisa dipercaya. Rekomendasi orang yang dipercaya oleh bos inilah yang kita jadikan 'senjata' selain tentunya kita harus membuktikan diri bahwa kita memang pantas dipercaya dan 'nggak malu-maluin' orang yang merekomendasikan kita.
Selasa, 20 April 2010
Harga Keringat

Berapa harga keringat anda?Rp.5000,-/botol?Bukan itu maksud saya. Jika anda bekerja pada suatu perusahaan, dan jam kerja anda adalah 8 jam, maka selama 8 jam itu diri anda bukanlah 100% diri anda lagi. Lugasnya perusahaan anda membeli anda dengan sejumlah upah atau gaji yang telah disepakati, hingga mata, telinga, panca indera, pikiran dan bahkan diri anda adalah milik perusahaan. Itulah harga tanggung jawab yang telah anda sanggupi sebelumnya.
Profesionalisme
Senin, 19 April 2010
Nothing's Free

Pada hakikatnya hidup ini adalah jual-beli. Ketika kita ingin mendapatkan mimpi kita, ada perjuangan, ada 'harga' yang harus kita bayar. Kita harus membeli mimpi itu dengan segala yang ada pada diri kita sebagai uangnya. Pengen yang gratisan? Jadi pemulung saja! Anda ingin isteri anda membahagiakan anda? Beli dia, dengan perhatian, kasih sayang, dan tentu saja uang. Hanya ayam yang tak butuh uang. Jika dia telah mendapatkan 'harga' yang pantas, biasanya_biasanya sih.._dia akan senang hati tuh menjual produk-produknya buat kita, bahkan kalau kita sedang beruntung, kita bisa dapat gratisan alias bonus, semacam "beli 2 gratis 1" gitu...
Belilah produk isteri kita! Horee..! G punya duit? Kerja! Saya kerja, tapi masih juga belum cukup. Berarti saatnya punya pekerja, alias waktunya kita jadi bos. Masih juga belum cukup buat dia? Cari aja yang lain, daripada kita jadi ga ada harganya...Bener kan Bos...?
Para Pengangguran, Bangkitlah!!!
A. Biasakan, latih diri anda dengan ::
1. Ketidaknyamanan:
2. Keprihatinan:
3. Kesusahan:
:
4. Kesadaran diri:
:
5. Disiplin tinggi:
:
:6. Kerja keras:
:
:7. Kerja cerdas:
:
8. Kemampuan menerima dan menikmati proses:
:
B. Pisahkan Kepribadian Anda
:
1. Bayangkan anda sedang mendokumentasikan diri anda dalam kamera. Jangan shoot lagi Si Pemalas 'workaphobia' dalam diri anda. Kalaupun ia merayu, cari perhatian, bahkan memaksa, cuekin saja!
:
2. Fokuskan dokumentasi 'film' anda pada si Produktif, dari awal sampai akhir film, yaitu ketika anda sampai pada akhir hidup anda.
Matre VS Ngeres
Saya termasuk orang yang setuju dengan pepatah nyeleneh "Sepandai-pandainya laki-laki menyembunyikan kengeresannya, takkan sepandai perempuan menyembunyikan kematrean-nya" (Off the record, pepatah ntu saya yang ngarang sendiri, barusan He..) Mari kita bahas. Maaf sebelumnya, bukan berarti saya membela habis-habisan kaum saya, sebaliknya juga bukan berarti saya seorang feminis.Faktanya: (maaf) Perempuan Pekerja Seks Komersial sampai hati menjajakan dirinya demi uang, padahal secara ekonomi dia tergolong cukup, hanya saja mungkin nafsunya selalu merasa kurang dan ingin hidup bergelimang kemewahan, tanpa kerja keras dan sesuai norma yang ada. Lalu.. laki-laki hidung belang dengan entengnya memakai jasa mereka dan rela mengeluarkan uang yang seharusnya dia gunakan untuk menafkahi anak-isterinya.
Lihatlah benang merahnya: uang dan seks. Siapa yang salah? Bukankah semua tampak alami buat anda? Masing-masing menjalani naluri alamiahnya, sesuai kodrat masing-masing. Bagi saya tampak seperti simbiosis mutualisme saja. Soal dosa atau tidak, urusan mereka dengan Tuhan.
Banyak laki-laki menceraikan isterinya karena isterinya sudah tak lagi membangkitkan gairah seks mereka seperti dulu. Sebaliknya (ehm...!) banyak perempuan minta cerai karena tidak tahan bersuamikan laki-laki miskin! Anda boleh tarik kesimpulan sendiri, bebas terserah anda, pertanggungjawabkan saja konsekuensinya.
Si Produktif
Berbahagialah anda jika ada darah 'workaholic' dalam diri anda. Anda hanya tinggal mengendalikan dan mengarahkannya pada produktifitas tinggi dengan kecepatan dan ketepatan kerja yang mengagumkan. Perpaduan ini akan menghasilkan mental pejuang yang tangguh.Produktifitas sering dihubungkan dengan ketepatan dan kecepatan. Anda mengerjakan sesuatu dengan cepat, tapi tidak tepat, itu salah namanya. Anda melakukan hal yang benar, tapi terlambat, itu kalah namanya.
Agar diakui sebagai orang yang produktif, anda harus bertindak cepat dan tepat dalam mengambil keputusan. Meningkatkan ketepatan bisa dilakukan dengan berlatih dan mempraktekkannya dalam tindakan nyata (learning by doing), sedangkan meningkatkan kecepatan dilakukan dengan latihan yang terarah dan terprogram.
Workaholic VS Workaphobia 9 (Masih Takut?)

Oke, jadi anda masih merasa orang yang paling malang di dunia karena dirundung rasa takut. Takut apakah anda, wahai orang yang budiman..!
1. Takut bersaing
Ada perbedaan mendasar antara takut dan lelah. Anda sebenarnya berani dengan persaingan, tapi hati anda merasa lelah karena sebenarnya panggilan jiwa anda bukan di bidang tersebut. Pada setiap perusahaan ada departemen khusus menangani masalah ini. Departemen personalia betugas menempatkan orang sesuai dengan posisinya, berdasarkan bakat, kepribadian, dan kemampuan intelektualnya. Anda tak bisa memaksakan sebuah baut agar masuk ke mur yang bukan pasangannya bukan?
Sedangkan takut menghadapi persaingan (berkompetisi) lebih cenderung menyerah pada ketakutan itu sendiri, sehingga kepandaian sejati dari mental anda malah tertekan tanpa disadari (lihat artiket sebelumnya) Ini sangat berbahaya.
2. Takut kehilangan harta untuk berinvestasi
Anda tahu orang dengan 'modal dengkul' sebenarnya lebih berpeluang merugi berkali-kali daripada anda yang berani mengeluarkan uang untuk berinvestasi? Maksud saya begini: Jika anda menginvestasikan uang, tenaga, fikiran dan waktu demi kesuksesan anda, itu bukanlah kerugian, karena anda bisa belajar banyak sepanjang pengalaman hidup anda, dan anda bisa berbagi pelajaran berharga itu dengan orang-orang yang anda sayangi. Tapi orang yang hanya bermodalkan dengkul? Dia mempertaruhkan dengkulnya, artinya kalau rugi ia akan kehilangan dengkulnya! Hanya sampai di situkah keberanian anda? Anda berani menjalani hidup, mondar-mandir tanpa dengkul..?Ayolah....yang benar saja.
3. Takut menjalani proses
Duh...Saya malu berteman dengan anda, anda terlalu penakut. Dan yang paling tak bisa diterima, anda mengaku kalah sebelum perang. Kalau kenyang sebelum makan? Mustahil kan namanya...Kalau anda tetap memilih berani, anda tidak akan mudah menyerah.
Workaholic VS Workaphobia 8 (mindset)

Kepala anda sangat berharga. Apa jadinya anda tanpa kepala. Tahukah anda apa yang lebih berharga? Isi kepala anda, pikiran anda! Ialah yang membedakan anda sehat atau tidak. Bahkan ia yang membedakan anda dari binatang. Tak perlu jadi orang jenius, karena kejeniusan itu bakat lahir. Kalau anda bukan orang jenius terus ngaku-ngaku jenius, itu maksa namanya. Beberapa orang dihargai dengan upah ratusan juta rupiah hanya dengan menjual ide mereka. Inilah salahsatu bukti betapa isi kepala kita sangat berharga. Ada definisi favorit saya:
"Jenius itu 1% = inspirasi (ilham)+99% cucuran keringat (usaha)"
Anda boleh jadi bukan termasuk orang pandai secara akademis. Kalau anda termasuk golongan ini_ anda senasib dengan saya_, anda harusnya lebih bisa bergerak leluasa tanpa predikat atau titel 'pandai' yang malah sering jadi beban.
Yang anda perlukan hanyalah:
Tahap pertama
"Berani, berani, berani, berani, berani dan berani...."
Tahap selanjutnya barulah
"Tekun, ulet, pantang menyerah, dan penuh perhitungan"
Workaholic VS Workaphobia 7(Uang Dari Langit)

Rasa takut itu alami, dalam banyak kasus bahkan bisa jadi kontrol (pengendali) agar orang tidak berbuat sesuatu yang melanggar norma atau peraturan. Kalangan aparat keamanan seperti polisi atau militer memanfaatkan rasa takut manusia sebagai alat efektif mengendalikan massa dan untuk kemudian menciptakan rasa aman yang dirasakan manfaatnya bagi masyarakat sendiri. Tapi kalau rasa takut yang berlebihan dibiarkan, kita akan jadi manusia penakut seumur hidup.
Lalu apa yang anda takuti?
1. Takut produktif?
Kalau itu yang anda takuti, kepala anda sangat besar bukan kepalang, bisa dibilang anda karikatur. Kalau anda seorang muslim, dalam Alquran surah Al-balad dijelaskan bahwa manusia memang diciptakan untuk bersusah-susah, bukan untuk bersenang-senang. Rasulullah junjunan kita sangat marah ketika mengetahui sahabatnya ada yang menganggur. Beliau sangat tegas jika menyangkut urusan produktifitas, karena beliau sendiri adalah orang yang sangat produktif, seluruh dunia tahu. "Jika anda hanya ingin bersenang-senang, maka bersiap-siaplah merasa tidak puas" Dan sayangnya dunia bukan tempat orang yang tak mau susah alias pengen enaknya saja. Dunia bukan tempat anda yang bermalas-malasan. Jadi para pemalas, keluar saja dari dunia ini!
2. Takut salah?
Biasanya orang yang tak pernah membuat kesalahan adalah orang yang tak pernah berbuat apa-apa. Jika anda ingin jadi orang yang produktif, kesalahan adalah keseharian anda. Kalau diumpamakan bayi, anda akan beraktifitas dengan cara merangkak sampai tua, karena belajar berjalan saja anda tidak mau, karena takut jatuh! Ayolah teman...ini sangat memalukan.
Lalu anda memilih :
1. Diam saja dan menunggu uang jatuh sendiri dari langit? Sementara jika anda sudah berkeluarga, anak-isteri anda wajib anda cukupi lahir-batinnya?
Hmm...Imajinasi anda terlalu berlebihan. Anda harusnya masuk imaginarium-nya Dr. Pharnassus, itu lho sebuah tempat bagi anak dengan imajinasi berlebih, tapi cuma ada di film Hollywood, dan itupun cuma buat anak kecil. Mau?
2. Bekerja keras pada waktu yang salah?
Jadi...Anda ingin bekerja nanti saja, di hari tua anda? itukah yang anda inginkan? Disaat orang lain beristirahat menikmati masa tuanya di tengah keluarga tercinta, dan menceritakan masa muda yang penuh petualangan dan inspirasi, anda malah mengais-ngais rezeki dengan mata kabur, tubuh lemah dan keriput, dan sifat yang sudah kekanak-kanakkan lagi? Itukah impian indah anda?? Anda haram berkhayal seperti itu. Semua ada masanya, dan di hari tua semuanya takkan pernah sama. Buatlah daftar orang di sekeliling anda yang menyia-nyiakan masa muda dan bersusah payah di hari tua. Saya berani bertaruh jumlahnya lebih dari sepuluh jari tangan. Saya tegaskan...Jangan pernah mau seperti itu! Anda bukan orang seperti itu!
Tunggu apalagi? Bereskan bengongnya, ayo kerja!!
Workaholic VS Workaphobia 6 (monyet)
Anda yang terlahir dengan shio monyet pasti akan senasib dengan saya; istilah bekennya punya ''superiority complex" yang mem-badung dalam diri kita. Lugasnya kecenderungan ini membuat orang besar kepala dan merasa diri paling sempurna, dan enggan mengeluarkan keringat. Hampir bisa dikatakan telah menjadi pembawaan kita. Tapi dengan tegas saya katakan jangan pernah dan jangan lagi berlindung di balik ketentuan klenikis seperti itu, karena kita punya panduan agama, yang lebih jelas dan gamblang mengatur segalanya. Dan bekerja keras bukan berarti harus selalu bermandikan keringat. Seorang pekerja keras dan cerdas dituntut mampu mendayagunakan kemampuan pikirannya untuk mengorganisir semua hal yang rumit menjadi sederhana dan dilakukan dengan tuntas dengan penuh tanggung jawab.
Agama mengajak kita untuk rendah hati, membumi, hidup normal dan realistis. Agama tidak melarang kita punya mimpi. Anda tahu, para pemimpin ummat bisa memimpin dengan baik karena mereka mengawalinya dengan sebuah mimpi, yang kemudian ditempuh berdasarkan tuntunan islam.
READ MORE - Workaholic VS Workaphobia 6 (monyet)
Agama mengajak kita untuk rendah hati, membumi, hidup normal dan realistis. Agama tidak melarang kita punya mimpi. Anda tahu, para pemimpin ummat bisa memimpin dengan baik karena mereka mengawalinya dengan sebuah mimpi, yang kemudian ditempuh berdasarkan tuntunan islam.
Workaholic VS Workaphobia 5 (aya we..)
Apakah ada jiwa workaphobia dalam diri saya? Ya! Dan saya yakin setiap orang juga punya, atau mungkin pernah terjerumus ke jalan yang salah ini. Faktanya adalah saya telah berhasil menaklukkan, melimpuhkan, bahkan membunuh samasekali parasit hati ini. Berkat kekompakan saya dengan diri saya sendiri. Terima kasih teman...
Sobat pasti bertanya bagaimana bisa? Ah aya we...
Menyadari diri dari mana kita memulai, sangatlah penting. Merendahkan sayap dan mererima kekurangan diri akan mendorong kita hidup di dunia yang realistis, dan mengingatkan kita agar senantiasa menginjak tanah.
READ MORE - Workaholic VS Workaphobia 5 (aya we..)
Sobat pasti bertanya bagaimana bisa? Ah aya we...
Menyadari diri dari mana kita memulai, sangatlah penting. Merendahkan sayap dan mererima kekurangan diri akan mendorong kita hidup di dunia yang realistis, dan mengingatkan kita agar senantiasa menginjak tanah.
Workaholic VS Workaphobia 4 (harga lelaki)
Meski kalangan pakar psikologi mencela sifat ini sebagai penghambat produktifitas, dan agama manapun secara tegas mencap orang-orang ini sebagai orang yang dzolim terhadap dirinya dan keluarga, tapi angka pengangguran masih saja tinggi. Kemungkinan sumbangan angka dari para workaphobia ini diyakini yang paling besar, hampir mendekati 80%, selain faktor pendidikan dan keterampilan serta kurangnya lapangan kerja yang tersedia.
Para workaphobia ini seringkali mengarang sejuta alasan agar bisa bermalas-malasan dan menghindari tanggungjawabnya sebagai kepala keluarga. Sebenarnya mereka bukan orang gila, hanya saja mereka mungkin belum menemukan pekerjaan yang cocok dengan panggilan jiwa mereka. Masalahnya sekarang adalah bukan cocok atau tidak cocok. Pertanyaannya adalah: bisa makankan anak-istrimu hari ini? Bagaimana dengan masa depan anakmu? Apa kamu pikirkan apa kata orang-orang karena kamu mangkir dari kewajibanmu sebagai seorang laki-laki?
"Lalaki mah Kudu Boga Harga.." Itulah pepatah favorit ayah saya. Masak kamu akan tinggal menumpang terus dengan mertua di rumahnya yang hampir roboh..? Dimana harga dirimu? Mikir bos...
READ MORE - Workaholic VS Workaphobia 4 (harga lelaki)
Para workaphobia ini seringkali mengarang sejuta alasan agar bisa bermalas-malasan dan menghindari tanggungjawabnya sebagai kepala keluarga. Sebenarnya mereka bukan orang gila, hanya saja mereka mungkin belum menemukan pekerjaan yang cocok dengan panggilan jiwa mereka. Masalahnya sekarang adalah bukan cocok atau tidak cocok. Pertanyaannya adalah: bisa makankan anak-istrimu hari ini? Bagaimana dengan masa depan anakmu? Apa kamu pikirkan apa kata orang-orang karena kamu mangkir dari kewajibanmu sebagai seorang laki-laki?
"Lalaki mah Kudu Boga Harga.." Itulah pepatah favorit ayah saya. Masak kamu akan tinggal menumpang terus dengan mertua di rumahnya yang hampir roboh..? Dimana harga dirimu? Mikir bos...
Workaholic VS Workaphobia 3 (gemblengan)
Kurangnya tempaan atau gemblengan orang tua ketika anak memasuki masa remaja, masa-masa yang penuh kebingungan akan jati dirinya sendiri, apa yang ia mau dan mana jalan yang mestinya ia tempuh, bisa jadi faktor yang juga signifikan terhadap perkembangan mental etos kerja seseorang. Tidak ada remaja yang mau begitu saja diatur. Sudah sifat alamiah mereka_ dan kita para orang tua pernah mengalaminya juga_keras kepala dan mau menang sendiri. Kesalahan yang terjadi adalah justru orang tua yang menyalahkan anaknya, yang padahal mestinya mereka arahkan dengan baik. Jika sebuah angkutan umum nabrak trotoar, apakah penumpang yang disalahkan? Ataukah sopir? Mari kita renungkan Bos.
Apa yang ingin saya katakan adalah mari kita memandang masalah ini pada proporsinya masing-masing. Sebagai seorang anak saya menyayangkan kenapa orang tua saya dulu terlalu lembek mendidik saya. Bukan berarti mereka memperlakukan saya seperti raja, mereka mendidik saya dengan baik, hanya saja mereka gagal menanamkan nilai-nilai disiplin dan produktifitas dalam jiwa saya. Tapi setelah mengalami sendiri,jadi orang tua ternyata tak semudah yang saya bayangkan.
Akhirnya ingin saya katakan, jadi orang tua atau anak, semua harus diiringi dengan kerja keras. agar tak menjadi sebuah produk yang gagal.
READ MORE - Workaholic VS Workaphobia 3 (gemblengan)
Apa yang ingin saya katakan adalah mari kita memandang masalah ini pada proporsinya masing-masing. Sebagai seorang anak saya menyayangkan kenapa orang tua saya dulu terlalu lembek mendidik saya. Bukan berarti mereka memperlakukan saya seperti raja, mereka mendidik saya dengan baik, hanya saja mereka gagal menanamkan nilai-nilai disiplin dan produktifitas dalam jiwa saya. Tapi setelah mengalami sendiri,jadi orang tua ternyata tak semudah yang saya bayangkan.
Akhirnya ingin saya katakan, jadi orang tua atau anak, semua harus diiringi dengan kerja keras. agar tak menjadi sebuah produk yang gagal.
Workah VS Workap 2 (prof. Ade Muhede)
Lebih lanjut Prof. Ade Muhede menjelaskan bahwa seseorang dibentuk oleh masa kecilnya. Mungkin saja orang tuanya mengajarkan ia cara yang salah tentang memandang dan menyelesaikan suatu masalah, atau mungkin mereka terlalu memanjakannya. Atau...mereka tidak membiasakan anaknya bekerja keras, bukan karena mereka tidak mencontohkan dan mengajarkannya, tapi mungkin cara mereka yang kurang pas.
Prof. Ade juga menjelaskan berdasarkan statistik Badan Kepengangguran Negara, bahwa angka penyebab besarnya jumlah pengangguran di Indonesia sebagian besar disebabkan oleh kemalasan mental dan fisik para laki-laki, bukan karena kurangnya tingkat keterampilan profesi.
READ MORE - Workah VS Workap 2 (prof. Ade Muhede)
Prof. Ade juga menjelaskan berdasarkan statistik Badan Kepengangguran Negara, bahwa angka penyebab besarnya jumlah pengangguran di Indonesia sebagian besar disebabkan oleh kemalasan mental dan fisik para laki-laki, bukan karena kurangnya tingkat keterampilan profesi.
Workaholic VS Workaphobia 1 (definisi)
Setiap kata berakhiran 'holic' mengandung arti 'sangat suka' atau 'menggilai'. Sebaliknya kata yang berakhiran 'phobia' berarti 'sangat takut akan..' atau 'sangat tidak suka akan' sesuatu. Dengan demikian workaholic berarti sangat menggilai kerja. Seseorang dikatakan workaholic bila hampir seluruh waktunya, selama 24 jam, sepanjang minggu, bulan, atau bahkan tahun ia habiskan untuk bekerja dan bekerja. Hampir tak ada waktu buat orang di sekitarnya, dalam arti menjalani kehidupan sosial di luar kerja, bahkan buat dirinya sendiri.
Workaphobia, makhluk apakah itu? Sebetulnya istilah itu dapet nemu penulis sendiri, istilah resminya sendiri penulis tidak tahu pasti. Banyak orang yang menderita kelainan mental ini. Prof.Ade Muhede, seorang pakar yang selama 7 (tujuh) tahun meneliti fenomena ini menjelaskan bahwa faktor masa kecil sangat dominan dalam menentukan kepribadian seseorang
READ MORE - Workaholic VS Workaphobia 1 (definisi)
Workaphobia, makhluk apakah itu? Sebetulnya istilah itu dapet nemu penulis sendiri, istilah resminya sendiri penulis tidak tahu pasti. Banyak orang yang menderita kelainan mental ini. Prof.Ade Muhede, seorang pakar yang selama 7 (tujuh) tahun meneliti fenomena ini menjelaskan bahwa faktor masa kecil sangat dominan dalam menentukan kepribadian seseorang
Langganan:
Postingan (Atom)






